BENING ILMU

Ilmu adalah sesuatu yang hebat, dia dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, tapi dapat juga di gunakan untuk kejahatan.
Hanya dengan kebeningan hati, ilmu dapat mengalir sebening air yang bermanfaat untuk kehidupan.


cANda

Tiga  Pembohong
Ada tiga orang pembohong yang sedang berlayar ke tengah laut, kemudian mereka bertemu dengan nelayan yang berkata bahwa ada restoran di bawah laut.
ketiga pembohong ketawa sambil berkata “pak, kami ini pembohong besar mana mungkin bapak bisa bohongin kami”.
Setelah nelayan pergi pembohong pertama penasaran, dia menyelam ke dalam laut dan ternyata di dalam memang tidak ada restoran, untuk menjaga gengsi dengan temannya di naik ke atas dengan membawa ikan sambil berkata “Benar di bawah ada restoran, ini buktinya aku membawa ikan”.
Pembohong kedua ganti menyelam dan berkata dalam hati “Sial aku di bohongin sama temanku” tapi dia tidak kekurangan akal, dia naik ke atas sambil membawa cumi-cumi sambil berkata “Iya benar, ada restoran”.
Pembohong ketiga langsung menyelam ke laut, tapi tidak di temukannya restoran, untuk menjaga gengsi dia mengambil batu dan memukul-mukuli batu tersebut ke wajahnya sampai berdarah, setelah itu dia naik sambil berkata “Eh lu berdua makan ga bayar ya, jadi gw yang kena masalah sampe di pukulin kaya begini”


Tidak Konsisten dengan Pengetahuan
Seorang Darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.

"Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang Darwis.

"Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.

"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang Darwis.

"Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasrudin.

"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si Darwis,

"Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."

Ah, konsistensi.